Patung Garuda Wisnu Kencana atau sering disingkat GWK dianggap sebagai salah satu ikon di Bali. Tentunya, kehadiran GWK ini bukanlah tanpa sejarah panjang. Bahkan, patung ini jadi simbol dari ideologi, budaya, teknologi, dan politik dari Indonesia. Sejarah patung GWK Bali layak untuk disimak oleh generasi muda agar mereka tidak kehilangan jati dirinya.
Sehingga, ketika Anda mengunjungi GWK, Anda bisa meresapi makna simboliknya, bukan hanya mengagumi kemegahan, ketinggian, dan kemewahannya saja. Melalui artikel ini, kami akan mengajak Anda menelusuri sejarang patung GWK Bali secara lengkap. Berikut penjelasan selengkapnya!
Filosofi Patung GWK

Gagasan GWK muncul dari visi besar seorang artist bernama I Nyoman Nuarta di akhir tahun 1980-an. Tujuannya membangun GWK bukan hanya sekadar ingin membangun sebuah patung saja, melainkan juga ingin menciptakan landmark di Bali yang setara dengan karya monumental di dunia.
Secara filosofis, GWK ini adalah patung dengan bentuk Dewa Wisnu yakni pemelihara alam semesta, simbol kebijaksanaan dan stabilitas, serta tanggung jawab moral. Selain itu, ada juga bentuk Garuda yang melambangkan kekuatan, kecepatan, kebebasan, serta keberanian.
Pada patung GWK, garuda ditunggangi, bukannya berdiri sendiri. Hal ini memberikan pesan yang tajam di mana kekuatan tidak seharusnya dilepas liar, melainkan diarahkan nilainya. Dalam konteks Indonesia di masa kini, pesannya sangat relevan, budaya tanpa kendali moral justru bisa menjadi kekuatan yang menghancurkan.
Proses Pembangunan GWK

Pembangunan GWK melalui beberapa tahap karena saat itu ada banyak kendala yang harus dihadapi. Patung dengan tinggi lebih dari 100 meter ini tentu menjadi proyek idealis yang harus melalui tahapan panjang pembangunan.
1. Awal Gagasan
Ide awal dari seni patung GWK dirancang sejak 1989 dengan konsep yang radikal. Di mana patung berukuran sangat tinggi yakni lebih dari 100 meter. Selain itu, konsepnya juga menggabungkan mitologi Hindu Bali dengan simbol nasional Indonesia. Pembangunan juga dilakukan di atas bukit kapur tandus di wilayah Bali Selatan. Namun, pada masa tersebut, Indonesia belum siap dari segi dana dan politik.
2. Masa Terhenti
Tantangan pembangunan GWK muncul kala terjadi krisis moneter di tahun 1998. Sehingga, pendanaan macet dan pembangunan harus dihentikan sampai bertahun-tahun. Beberapa bagian patung juga sempat terbengkalai di area proyek. Bahkan, sempat terpikir bahwa proyek ini hampir kandas.
Pada periode tersebut, banyak yang menganggap bahwa GWK tidak akan selesai. Bahkan, ada juga yang menyebut dengan “proyek ego”, ambisius, dan muncul juga penolakan karena banyak yang menganggapnya bisa mengganggu kesakralan alam Bali.
3. Masa Kebangkitan dan Penyelesaian
Ternyata, anggapan tersebut tidak benar, di dekade 2010-an, muncul dukungan investasi yang besar sehingga GWK bisa bergerak kembali. Akhirnya, di tahun 2018, proyek ini resmi berdiri utuh dan terselesaikan. GWK membutuhkan waktu selama 30 an tahun untuk berdiri kokoh.
Keunikan Kuningan Sebagai Material Patung

Patung GWK ini tidak hanya dibuat dengan beton penuh. Pada bagian luarnya memakai campuran antara tembaga dan kuningan. Tentu saja, ini membuat anggaran pembangunannya jadi luar biasa besar. Namun, keputusan ini diambil bukan tanpa alasan.
Pemilihan kuningan sebagai bahan pelapisnya dikarenakan Bali memiliki cuaca panas yang ekstrem, kelembaban tinggi, serta angin laut yang berembus kencang. Kuningan sendiri memiliki sifat tahan terhadap korosi sehingga stabil dalam jangka waktu yang panjang.
Kuningan juga bisa memberikan detail artistik terutama pada lipatan kain Wisnu dan bulu Garuda yang tidak mungkin bisa maksimal jika hanya menggunakan beton. Kuningan juga mampu memantulkan cahaya matahari dengan baik sehingga memiliki efek visual yang cantik ketika pagi ke sore hari.
Fakta yang Jarang Diketahui tentang GWK

GWK adalah proyek yang sangat besar bagi Bangsa Indonesia. Namun, tahukah Anda jika ada beberapa fakta yang sering luput dari perhatian masyarakat. Berikut akan kami berikan beberapa poinnya:
- Dibandingkan dengan Patung Liberty, GWK lebih tinggi apabila dihitung dengan penopangnya.
- Kepala Garuda dirakit secara terpisah dari badannya karena memiliki bobot yang ekstrem.
- Warna patung akan selalu berubah secara alami karena terjadi oksidasi, ini bukan kesalahan, melainkan bagian dari desain.
- Proporsi tubuh garuda sengaja dimodifikasi supaya terlihat seimbang dari kejauhan.
- GWK ini bukanlah sebuah patung yang utuh, melainkan sistem struktur yang kompleks.
Dampak GWK untuk Pariwisata Bali

Dengan adanya GWK ini, ternyata ada dampak nyata yang diberikan untuk pariwisata Bali, seperti:
- Bisa menjadi diversifikasi wisata, sehingga banyak orang yang tidak hanya menganggap wisata Bali hanya pantai saja, melainkan juga ada wisata budaya berupa monumen dengan ukuran yang luar biasa besar.
- GWK menjadi landmark global karena sudah sering masuk ke daftar patung terbesar dunia. Artinya, ini menjadi salah satu promosi gratis yang dilakukan di dunia internasional.
- GWK Culture Park juga kerap menjadi pusat event besar seperti lokasi festival, konser, hingga event dengan skala internasional.
- Identitas budaya bagi warna Bali pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.
Patung GWK ini memang lahir dari ambisi besar yang tak lepas dari konflik. Sejarah panjangnya membuktikan bahwa karya monumental tidak akan lahir tanpa hambatan.
Dengan material kuningan yang juga melambangkan keabadian juga menjelaskan bahwa GWK adalah monumen yang tidak hanya menjadi spot foto, tetapi bukti bahwa Indonesia berhasil mewujudkan hal yang mustahil bagi banyak orang.
Nah, mengingat bahwa material kuningan bisa dipercaya menjadi bagian dari monumen sebesar itu, tentu kualitas bahannya tidak bisa diabaikan begitu saja. Anda bisa mulai memilih kuningan untuk dijadikan material untuk furniture atau hiasan rumah Anda.
Jika penasaran dengan produk-produk kuningan yang dikerjakan oleh pengrajin kuningan Boyolali, silahkan cek laman utama website Roemah Tembaga atau bisa langsung konsultasikan dengan kami melalui ikon WhatsApp di pojok kanan bawah laman ini!
